Monday, 8 March 2010

Bagaimana Cara Merawat Lukisan? (VA #35)

ARTIKEL INI DITUJUKAN UNTUK ANDA YANG MENCINTAI LUKISAN. ANDA BISA SAJA SEORANG KOLEKTOR, PENCINTA SENI, PEMERHATI SENI MAUPUN SEORANG PELUKIS. BERISI TIPS ATAU CARA-CARA PRAKTIS BAGAIMANA MERAWAT LUKISAN


M
ungkin tanpa disadari, bahwa hari-hari kita dipenuhi dengan karya seni yang sudah biasa kita lihat di area habitat kita, misalnya di rumah, maupun di area publik, seperti gedung perkantoran, hotel, mall, lobby dan yang lainnya. Untuk pembaca Visual Arts yang sudah biasa menikmati lukisan, baik untuk koleksi maupun investasi, saya rasa Anda sudah sempat merasakan bagaimana sebuah lukisan bisa mentransformasikan “rasanya” pada sebuah ruangan atau tempat. Sebuah lukisan modern impresionis, dengan pohon yang rimbun dan teduh, misalnya, cenderung menebarkan mood yang efisien dan tenang, bagi yang orang tinggal di dalam ruangan tersebut. Sebuah lukisan kontemporer, dengan karya minimalis dan warna terang, cenderung mengajak audience termenung dalam proses kontemplatif, sehingga cocok untuk mendidik kreativitas dan mood yang energik.

Suatu hal yang tidak kita sadari, adalah bahwa semua lukisan, bagaimana bentuknya, mengalami proses penuaan. Terkadang kita melihat lukisan di living room seolah-olah warna nya lebih gelap dari biasanya atau berubah kusam. Atau lukisan dekat kamar mandi, lama-lama terlihat bolong kecil-kecil dengan bulu putih. Mungkin kita pernah menemukan sebuah lukisan secara tidak sengaja dari gudang. Cobalah lihat lebih dekat, dan kita bisa menelusuri bahwa banyak kerusakan pada lukisan tersebut yang tidak sarat mata, seperti retak, berdebu, kotor atau lecet. Beberapa kasus yang agak berat, misalnya berjamur atau kanvas yang sobek digigit tikus.

Secara alami, kondisi lukisan mengalami degradasi, karena iklim cuaca, temperatur atau efek negatif lain. Tentu saja proses degradasi ini akumulatif selama bertahun-tahun, dan rate kecepatan nya banyak dipengaruhi oleh kualitas cat dan kanvas original dari si pelukis tersebut selain juga penyimpanan yang baik. Tanpa perawatan yang benar, lukisan tersebut akan semakin rusak dan akhirnya tidak lagi bisa dinikmati. Misalnya saja lukisan tua yang sobek, kan tidak layak lagi untuk dipajang dan kadang kita mencari jalan keluarnya dengan menaruh di gudang. Padahal dengan menaruh di gudang, lukisan tersebut juga tidak akan benar dengan sendiri nya, ataupun kondisi gudang yang lembab, malah akan mengundang rayap maupun tikus. Saya sering melihat kondisi lukisan yang bolong digigit tikus, ataupun berjamur dan kemudian menjadi santapan rayap. Masalahnya, lukisan yang berjamur dan dimakan rayap terkadang bisa menular ke lukisan lain. Jadi ada baiknya juga storage kita di fumigasi berkala untuk memberantas rayap, dan menyediakan dehumidifier untuk menekan kelembaban di ruangan sehingga resiko penjamuran pada karya tetap minimal.

Untuk pencinta kertas, jika Anda pernah melihat bintik-bintik coklat seperti freckles pada lukisan Anda, noda ini adalah jamur yang biasa disebut foxing. Hal pertama yang perlu diingat untuk pencinta kertas, adalah sebaiknya menggunakan kaca untuk membingkai lukisan dari kertas, karena saat foxing terjadi, maka debu jamur akan di retain di dalam bingkai kaca. Debu ini bisa membawa alergi pada anak kecil dan pada kasus yang ekstrim, menimbulkan asma. Foxing atau penjamuran pada kertas sering terjadi pada kondisi udara yang lembab. Sayangnya Indonesia dengan iklim tropis di dengan kelembaban yang cukup tinggi, sangat berbeda dengan iklim eropa, sehingga tanpa penanganan yang baik maupun maintenance khusus lukisan dari kertas lebih progresif degradasi nya dibanding lukisan kanvas. Untuk menghindari kertas dari jamur, sebaiknya pilihlah non acidic paper sebelum Anda berkarya. Memang harganya lebih tinggi dari kertas biasa tapi nilai investasi yang sangat baik mengingat kondisi kertas tersebut lebih awet dan tahan lama.

Disaat kita mulai mengerti dan sadar akan pentingnya menjaga dan maintenance untuk koleksi lukisan kita, mungkin saja dalam bentuk kertas dan kanvas, maka koleksi lukisan kita akan terjaga dan awet untuk jangka waktu yang lama. Lukisan tua maupun antik yang kondisinya masih bagus, tentu saja jauh lebih berharga secara market value, sekaligus secara emotional value.

Untuk lukisan yang lapuk, sobek, kotor ataupun rusak di bagian lainnya, maka alternatif terakhir untuk memperbaiki lukisan tersebut dengan seorang restorator professional. Seorang restorator bukan saja memiliki keahlian khusus mampu menganalisa dengan teliti sejarah lukisan tersebut tetapi juga paham problem solving skill yang dibutuhkan untuk memperbaiki lukisan tersebut. Seorang restorator yang baik, handal dan memiliki pengalaman yang luas, dan terbuka untuk mengeksplorasi semua solusi yang terbaik untuk lukisan Anda.

Tahun 2005 kami mulai bekerja sama dengan Mon Décor Gallery dan mulai mengoperasikan bagian departemen restorasi dengan 5 staf bergelut dengan semua jenis kerusakan lukisan kotor di atas kanvas, mulai dari rusak, bolong, hingga berjamur dan sebagainya. Kami sudah menerima lebih dari 430 karya baik di kanvas maupun di kertas yang telah berhasil kami restorasi dengan sukses. Metode kami mengkombinasikan teori restorasi tertua Eropa dengan menyesuaikan kondisi Asia pada prakteknya, membuahkan suatu formula dengan hasil yang sangat efisien dalam merestorasi lukisan kanvas, klasik maupun kontemporer. Setiap karya yang kami kerjakan di workshop kami, didokumentasikan secara lengkap masing-masing sebelum proses material test pada laboratorium kami untuk memutuskan bahan-bahan yang cocok untuk lukisan Anda.

Untuk proses restorasi biasanya membutuhkan waktu yang agak lama karena proses nya yang cukup detail dan rumit, dan melibatkan banyak pencampuran senyawa kimiawi, namun seorang restorator tidak hanya mengembalikan lukisan Anda yang rusak kembali indah, tetapi juga bisa memberikan konsultasi yang sangat berguna bagaimana menjaga, mengapresiasi dan mencintai koleksi karya art Anda supaya selalu berada pada konsidi optimum untuk jangka waktu yang panjang. [V]

No comments:

Post a Comment