Monday, 8 March 2010

Photography as Art

What is the difference between photography or art photography?

I was sitting down with my good photographer friend and we had quite an afternoon discussing our thoughts at the gallery.

Let's start at their history. I think although for many years both remain in their own domain, but first I had to explain to him why photography and art printed on glossy photo paper are seen as two different things.

There was a time a gallery in Kemang operating around 2005, specialized in photography, and boy they were exhibiting exceptionally fantastic pieces from American photographers, but it never really survived neither markets by the standards of the art passionanti or the photographer fanatics, so they had to close it down. Evidently it showed that Indonesian market was not ready to follow the global trends nor be contemporary enough to pick up various alternative arts besides modern painting and sculpture that year.

However these thoughts are changing. Thanks to the contemporary art age, there has been a moderate shift that made the two closer, bringing in closer art to alternative mediums to a new level.
Contemporary art movement in the past decade, claims the existence of concept above the validity of various mediums. The more thought-provoking or interesting the concept, the more exciting the piece. Art became, well, not just pleasing to the eyes, but a device to communicate a certain intention to the intellects.

Art requires brain, art is sexy!

Art on glossy papers, is Vik Muniz, whose works emerged since Venice Biennale to the recent 2009 Korea Art Fair or Cindy Sherman whose works are familiar to museum and gallery scavangers. These are real artists who choose to communicate through photography - and by that it means the camera as the device without showing off too much on the technique.

In 2005 I was lucky enough to meet a finalist of Jakarta Biennale, a photographer by the name of Nico Darmajungen, whose work was to die for. He also confessed the truth about his undying love of being an artist with this choice of medium, his tragic love story with his past model girlfriends, and his burning passion on the still pictures.
Somehow when I realise stories embedded within the work, the artwork becomes alive. At the end it's a visual novel - because you get to enliven the experience the artist was feeling.

Posted via LiveJournal.app.

Waspadai Kerusakan Pada Lukisan Anda (VA #36)

Setelah edisi lalu artikel saya menceritakan tentang perkenalan restorasi lukisan kanvas dan kertas, dan mengapa merestorasi lukisan itu perlu -- karena emotional value yang tidak tergantikan saat lukisan tersebut damaged atau rusak -- maka kali ini saya akan bercerita sedikit mengenai profil lukisan yang rusak, dan faktor-faktor penyebabnya  dari yang paling umum sampai yang paling serius.

Artikel ini saya harap bisa bermanfaat bagi art lovers, supaya Anda merasa lebih percaya diri saat membeli karya dengan mendapatkan “your money’s worth” , maupun pelukis supaya lebih selektif menggunakan material dan bahan yang baik saat berkarya, sehingga koleksi/karya Anda berada dalam kondisi yang optimum di kemudian hari. Artikel ini juga akan membahas bagaimana menangani dan merawat lukisan kesayangan Anda sehari-hari, supaya tidak cepat rusak ataupun kotor.  Mari kita list elemen apa saja yang bisa menyebabkan kerusakan pada sebuah lukisan di atas kanvas, dan bagaimana cara menanggulanginya.

Jamur – Jamur adalah problem yang paling umum untuk negeri kita ini, dengan kelembaban yang relatif cukup tinggi, sehingga bukan saja tanpa bermodal kanvas dan cat yang baik tetapi juga tanpa merawat lukisan dengan baik dengan temperatur teratur, maka karya lukisan akan menjadi tempat yang ideal untuk tumbuhnya jamur. Jamur bisa bermacam-macam bentuk nya, dari berwarna hitam, ungu kebiruan ataupun putih berbintik-bintik. Pada kasus yang biasa saya temui jamur juga bisa tumbuh bukan hanya pada seluruh permukaan lukisan tetapi hanya beberapa bagian, seperti di bagian yang berwarna hitamnya saja.

Sebagai tips untuk Anda, sebuah lukisan idealnya berada di dalam ruangan tertutup, tanpa sinar matahari langsung menyorot ke permukaan lukisan (karena bisa menyebabkan kekeringan), dengan suhu ruangan yang cukup dingin, yaitu antara 19-21 derajat Celcius. Ruangan bisa dibuka supaya sirkulasi udara lancar, dan jauh dari udara lembab penyebab jamur. Untuk storage atau ruangan yang lebih sering tertutup, bisa menggunakan sebuah mesin dehumidifier yang berguna menyerap kelembaban berlebihan.

Hama -- Rayap, serangga kecil dengan rahang yang kuat dan hidup berkoloni, sangat gemar  membangun sarang di kayu yang lapuk, sedikit lembab, atau berjamur. Rayap cenderung membuat sarang di spanram (support kayu di belakang lukisan) dan bersarang di tempat gelap. Spanram yang di hinggapi rayap akan lapuk dan tidak kuat untuk me-support lukisan, sehingga bukan saja kanvas lukisan akan ‘sagging’ (mengkerut) sebelum waktunya, tetapi bisa menimbulkan berbagai macam problema yang lain. Lukisan dengan kanvas yang menipis mudah robek, kotoran bisa menumpuk di bagian yang terlipat, kanvas bisa bolong dimakan rayap dan masih banyak kemungkinan kerusakan lukisan lainnya.

Tips  buat Anda, untuk menghindari rayap dan menjauhkan lukisan kesayangan Anda dari hama yang bisa merusak lukisan, sebaiknya tempat penyimpanan lukisan selalu kering, dan tidak menempel ke tanah. Tanda-tanda adanya koloni rayap biasanya ditemukan bolong berlubang di bagian dalam maupun permukaan spanram, atau saat kayu spanram tersebut yang tidak lagi bisa berbunyi “nyaring” saat diketuk. Saat kayu sudah terlalu lapuk ataupun terlalu banyak lubang, maka tidak lagi efektif sebagai support sebuah lukisan, oleh karena itu sebaiknya diganti dengan yang baru. Untuk meminimalkan risiko rayap bersarang pada kayu yang baru, sebaiknya kayu yang baru di celup ke obat anti rayap (saya pernah menggunakan produk anti rayap bernama basileum ) selama beberapa jam agar meresap sebelum dipakai sebagai support spanram lukisan.

Rayap juga mengesalkan karena  bisa ‘menular’ ke lukisan lain. Biasanya sebuah lukisan dengan support spanram yang ditinggali rayap, maka lukisan di sebelahnya dalam radius dua meter akan besar kemungkinannya juga dihinggapi rayap. Kalau tempat penyimpanan lukisan Anda ternyata terdapat banyak residensi rayap (misalnya lebih dari lima buah lukisan yang termakan rayap) maka saran saya tempat penyimpanan sebaiknya di fumigasi (proses fumigasi biasanya memerlukan waktu tiga – empat hari) dan spanram yang sudah dimakan rayap harus diganti dengan yang baru.

The bad news is, selain oleh rayap, masih ada lagi kerusakan yang ditimbulkan oleh hama lainnya,  misalkan saja tikus, yang sangat gemar menggerogoti cat dan menyebabkan kanvas berlubang. Yang aneh tikus lebih ‘doyan’ dengan jenis cat modern yang masih berada di dalam tube industrial, sehingga saya sempat ‘berteori’ mungkin tikus zaman sekarang cukup memiliki selera kontemporer dan tidak buta warna. Ada pula serangga, yang gemar meninggalkan telur/ kotoran di permukaan lukisan berupa titik-titik hitam dalam satu garis, atau kecoa yang suka mencari sisa sampah atau bahan organik yang masih menempel di cat. Kotoran kecoa yang sifatnya irritant (uric acid) bisa merusak cat.

Tips buat Anda, untuk mengurangi risiko kedatangan hama yang mengganggu, ada baiknya tempat penyimpanan lukisan (storage) di cek secara berkala untuk memastikan bahwa tidak ada binatang kecil yang bersarang di tempat tersebut dan pendingin ruangan tidak bocor. Di dalam ruang tempat penyimpanan lukisan juga bisa meletakkan satu-dua buah naphthalene balls (tergantung besar ruangan) yang akan bekerja menjaga ruangan penyimpanan tetap kering dan lukisan Anda jauh dari ngengat atau serangga kecil lainnya.

Retak – Biasanya terjadi karena lukisan tersebut mengalami kekeringan di struktur cat terhadap tekstil kanvas, campuran cat minyak yang tidak seimbang, merk cat yang kurang baik atau tidak cocok dengan bahan tekstil canvas, sehingga cat tidak merekat dengan kuat ke kanvas dan tidak akan bertahan lama. Keretakan  yang terjadi pun bermacam-macam bentuknya, mulai dari radial (melingkar seperti sarang laba-laba), kecil-kecil (atau yang disebut retak seribu) sampai yang besar-besar sehingga struktur cat lepas sepenuhnya dari kanvas. Retak juga ada yang berbentuk seperti sungai “cracqueler” karena struktur cat yang terpisah, atau gunung, karena struktur cat yang saling bertabrakan. Kerusakan ini biasa terjadi pada pinggir kanvas, maupun bagian-bagian tertentu saja, tergantung dari kondisi cat lukisan Anda. Keretakan lukisan adalah proses alami, tetapi kalau eksistensinya mengganggu visual sebuah karya lukisan, maka lebih baik diperbaiki. Seorang restorator akan handal ‘menyembunyikan’ kerusakan lukisan Anda, baik dilihat dari depan maupun dari belakang lukisan. Sebelum kita merestorasi lukisan yang retak, sebaiknya di konsultasikan dulu ke seorang professional restorator,  karena ada beberapa isu yang perlu diperhatikan. Misalnya sebuah lukisan dari Eropa, dengan suhu udara yang kering sangat terbiasa untuk mengalami keretakan, sehingga eksistensi keretakan yang rata dan menyeluruh akan dianggap sebagai “antik”. Sedangkan lukisan dari Indonesia dengan tingkat kelembaban yang cukup tinggi, tidak terbiasa mengalami keretakan menyeluruh, kecuali karena kualitas campuran cat yang kurang baik maupun cat yang belum kering saat di vernis sehingga masih ada pergerakan di bawah layer vernis, maka saat terjadinya keretakan hanya di beberapa bagian saja sehingga eksistensinya cukup jelas dan terlihat “rusak”.

Tips buat Anda, sebaiknya pastikan dahulu bahwa restorator Anda tidak saja memiliki teknik melukis, tetapi juga memiliki ilmu restorasi yang baik dengan mendalami teori dan mengkombinasikan dengan pengalaman merestorasi, untuk memastikan hasil yang terbaik untuk lukisan Anda.

Vernis – Sebuah layer tipis paling atas permukaan lukisan, vernis berguna untuk memproteksi cat supaya tidak kontak langsung dengan udara. Vernis biasanya tidak memiliki warna atau colourless, tetapi memiliki efek yang sangat efisien untuk menjaga kondisi lukisan tetap terjaga dan bisa memberikan efek warna yang lebih “dalam” atau lebih kontras dari lukisan sebenarnya. Vernis berasal dari resin natural atau resin sintetik. Kebanyakan lukisan tua atau antik menggunakan resin natural, yang finishingnya terlihat lebih glossy, sementara untuk lukisan baru atau kontemporer lebih banyak menggunakan resin sintetik dengan finishing matt. Secara alami vernis yang didasari resin natural mengalami penuaan dan bisa berubah warna menjadi merah tua atau kecoklatan, tergantung dari jenis resin itu sendiri. Resin dari Sumatra, misalnya cenderung lebih merah kecoklatan, daripada resin dari Borneo yang cenderung berwarna kekuningan. Resin yang berwarna coklat bisa berdampak sangat positif untuk sebuah lukisan, atau cocok untuk lukisan klasik dan antik, dengan nuansa klasik Eropa, karena bisa memberikan efek warna yang terlihat kontras dan “hidup”, tetapi dampak negatifnya dalam jangka waktu panjang bisa terlihat gelap (sehingga proses re-vernis perlu dilakukan). Vernis dari resin tipe ini sangat popular dengan lukisan Eropa, untuk memperdalam efek ‘chiara-scuro’ dimana tampilan karya lukisan menekankan gelap – terangnya lukisan tersebut (contohnya lukisan Rembrandt). Resin yang tidak berwarna, atau berwarna kuning bening, memang lebih stabil dalam arti tahan lama, fleksibel dan tidak berubah warna sama sekali, tetapi memiliki properties matt, sehingga kurang “bermain” dalam efek kontrasnya. Ada baiknya kita memilih tipe vernis yang sesuai dengan karya lukisan itu sendiri, untuk memperlihatkan kecocokan dekade dan originalitas dengan tampilan yang maksimal.

Di artikel selanjutnya saya akan menceritakan lebih jauh jenis kerusakan lainnya dari sobek, resapan air dan kecerobohan restorasi yang dilakukan oleh non-profesional [V]  

Bagaimana Cara Merawat Lukisan? (VA #35)

ARTIKEL INI DITUJUKAN UNTUK ANDA YANG MENCINTAI LUKISAN. ANDA BISA SAJA SEORANG KOLEKTOR, PENCINTA SENI, PEMERHATI SENI MAUPUN SEORANG PELUKIS. BERISI TIPS ATAU CARA-CARA PRAKTIS BAGAIMANA MERAWAT LUKISAN


M
ungkin tanpa disadari, bahwa hari-hari kita dipenuhi dengan karya seni yang sudah biasa kita lihat di area habitat kita, misalnya di rumah, maupun di area publik, seperti gedung perkantoran, hotel, mall, lobby dan yang lainnya. Untuk pembaca Visual Arts yang sudah biasa menikmati lukisan, baik untuk koleksi maupun investasi, saya rasa Anda sudah sempat merasakan bagaimana sebuah lukisan bisa mentransformasikan “rasanya” pada sebuah ruangan atau tempat. Sebuah lukisan modern impresionis, dengan pohon yang rimbun dan teduh, misalnya, cenderung menebarkan mood yang efisien dan tenang, bagi yang orang tinggal di dalam ruangan tersebut. Sebuah lukisan kontemporer, dengan karya minimalis dan warna terang, cenderung mengajak audience termenung dalam proses kontemplatif, sehingga cocok untuk mendidik kreativitas dan mood yang energik.

Suatu hal yang tidak kita sadari, adalah bahwa semua lukisan, bagaimana bentuknya, mengalami proses penuaan. Terkadang kita melihat lukisan di living room seolah-olah warna nya lebih gelap dari biasanya atau berubah kusam. Atau lukisan dekat kamar mandi, lama-lama terlihat bolong kecil-kecil dengan bulu putih. Mungkin kita pernah menemukan sebuah lukisan secara tidak sengaja dari gudang. Cobalah lihat lebih dekat, dan kita bisa menelusuri bahwa banyak kerusakan pada lukisan tersebut yang tidak sarat mata, seperti retak, berdebu, kotor atau lecet. Beberapa kasus yang agak berat, misalnya berjamur atau kanvas yang sobek digigit tikus.

Secara alami, kondisi lukisan mengalami degradasi, karena iklim cuaca, temperatur atau efek negatif lain. Tentu saja proses degradasi ini akumulatif selama bertahun-tahun, dan rate kecepatan nya banyak dipengaruhi oleh kualitas cat dan kanvas original dari si pelukis tersebut selain juga penyimpanan yang baik. Tanpa perawatan yang benar, lukisan tersebut akan semakin rusak dan akhirnya tidak lagi bisa dinikmati. Misalnya saja lukisan tua yang sobek, kan tidak layak lagi untuk dipajang dan kadang kita mencari jalan keluarnya dengan menaruh di gudang. Padahal dengan menaruh di gudang, lukisan tersebut juga tidak akan benar dengan sendiri nya, ataupun kondisi gudang yang lembab, malah akan mengundang rayap maupun tikus. Saya sering melihat kondisi lukisan yang bolong digigit tikus, ataupun berjamur dan kemudian menjadi santapan rayap. Masalahnya, lukisan yang berjamur dan dimakan rayap terkadang bisa menular ke lukisan lain. Jadi ada baiknya juga storage kita di fumigasi berkala untuk memberantas rayap, dan menyediakan dehumidifier untuk menekan kelembaban di ruangan sehingga resiko penjamuran pada karya tetap minimal.

Untuk pencinta kertas, jika Anda pernah melihat bintik-bintik coklat seperti freckles pada lukisan Anda, noda ini adalah jamur yang biasa disebut foxing. Hal pertama yang perlu diingat untuk pencinta kertas, adalah sebaiknya menggunakan kaca untuk membingkai lukisan dari kertas, karena saat foxing terjadi, maka debu jamur akan di retain di dalam bingkai kaca. Debu ini bisa membawa alergi pada anak kecil dan pada kasus yang ekstrim, menimbulkan asma. Foxing atau penjamuran pada kertas sering terjadi pada kondisi udara yang lembab. Sayangnya Indonesia dengan iklim tropis di dengan kelembaban yang cukup tinggi, sangat berbeda dengan iklim eropa, sehingga tanpa penanganan yang baik maupun maintenance khusus lukisan dari kertas lebih progresif degradasi nya dibanding lukisan kanvas. Untuk menghindari kertas dari jamur, sebaiknya pilihlah non acidic paper sebelum Anda berkarya. Memang harganya lebih tinggi dari kertas biasa tapi nilai investasi yang sangat baik mengingat kondisi kertas tersebut lebih awet dan tahan lama.

Disaat kita mulai mengerti dan sadar akan pentingnya menjaga dan maintenance untuk koleksi lukisan kita, mungkin saja dalam bentuk kertas dan kanvas, maka koleksi lukisan kita akan terjaga dan awet untuk jangka waktu yang lama. Lukisan tua maupun antik yang kondisinya masih bagus, tentu saja jauh lebih berharga secara market value, sekaligus secara emotional value.

Untuk lukisan yang lapuk, sobek, kotor ataupun rusak di bagian lainnya, maka alternatif terakhir untuk memperbaiki lukisan tersebut dengan seorang restorator professional. Seorang restorator bukan saja memiliki keahlian khusus mampu menganalisa dengan teliti sejarah lukisan tersebut tetapi juga paham problem solving skill yang dibutuhkan untuk memperbaiki lukisan tersebut. Seorang restorator yang baik, handal dan memiliki pengalaman yang luas, dan terbuka untuk mengeksplorasi semua solusi yang terbaik untuk lukisan Anda.

Tahun 2005 kami mulai bekerja sama dengan Mon Décor Gallery dan mulai mengoperasikan bagian departemen restorasi dengan 5 staf bergelut dengan semua jenis kerusakan lukisan kotor di atas kanvas, mulai dari rusak, bolong, hingga berjamur dan sebagainya. Kami sudah menerima lebih dari 430 karya baik di kanvas maupun di kertas yang telah berhasil kami restorasi dengan sukses. Metode kami mengkombinasikan teori restorasi tertua Eropa dengan menyesuaikan kondisi Asia pada prakteknya, membuahkan suatu formula dengan hasil yang sangat efisien dalam merestorasi lukisan kanvas, klasik maupun kontemporer. Setiap karya yang kami kerjakan di workshop kami, didokumentasikan secara lengkap masing-masing sebelum proses material test pada laboratorium kami untuk memutuskan bahan-bahan yang cocok untuk lukisan Anda.

Untuk proses restorasi biasanya membutuhkan waktu yang agak lama karena proses nya yang cukup detail dan rumit, dan melibatkan banyak pencampuran senyawa kimiawi, namun seorang restorator tidak hanya mengembalikan lukisan Anda yang rusak kembali indah, tetapi juga bisa memberikan konsultasi yang sangat berguna bagaimana menjaga, mengapresiasi dan mencintai koleksi karya art Anda supaya selalu berada pada konsidi optimum untuk jangka waktu yang panjang. [V]