Setelah edisi lalu artikel saya menceritakan tentang perkenalan restorasi lukisan kanvas dan kertas, dan mengapa merestorasi lukisan itu perlu -- karena emotional value yang tidak tergantikan saat lukisan tersebut damaged atau rusak -- maka kali ini saya akan bercerita sedikit mengenai profil lukisan yang rusak, dan faktor-faktor penyebabnya dari yang paling umum sampai yang paling serius.
Artikel ini saya harap bisa bermanfaat bagi art lovers, supaya Anda merasa lebih percaya diri saat membeli karya dengan mendapatkan “your money’s worth” , maupun pelukis supaya lebih selektif menggunakan material dan bahan yang baik saat berkarya, sehingga koleksi/karya Anda berada dalam kondisi yang optimum di kemudian hari. Artikel ini juga akan membahas bagaimana menangani dan merawat lukisan kesayangan Anda sehari-hari, supaya tidak cepat rusak ataupun kotor. Mari kita list elemen apa saja yang bisa menyebabkan kerusakan pada sebuah lukisan di atas kanvas, dan bagaimana cara menanggulanginya.
Jamur – Jamur adalah problem yang paling umum untuk negeri kita ini, dengan kelembaban yang relatif cukup tinggi, sehingga bukan saja tanpa bermodal kanvas dan cat yang baik tetapi juga tanpa merawat lukisan dengan baik dengan temperatur teratur, maka karya lukisan akan menjadi tempat yang ideal untuk tumbuhnya jamur. Jamur bisa bermacam-macam bentuk nya, dari berwarna hitam, ungu kebiruan ataupun putih berbintik-bintik. Pada kasus yang biasa saya temui jamur juga bisa tumbuh bukan hanya pada seluruh permukaan lukisan tetapi hanya beberapa bagian, seperti di bagian yang berwarna hitamnya saja.
Sebagai tips untuk Anda, sebuah lukisan idealnya berada di dalam ruangan tertutup, tanpa sinar matahari langsung menyorot ke permukaan lukisan (karena bisa menyebabkan kekeringan), dengan suhu ruangan yang cukup dingin, yaitu antara 19-21 derajat Celcius. Ruangan bisa dibuka supaya sirkulasi udara lancar, dan jauh dari udara lembab penyebab jamur. Untuk storage atau ruangan yang lebih sering tertutup, bisa menggunakan sebuah mesin dehumidifier yang berguna menyerap kelembaban berlebihan.
Hama -- Rayap, serangga kecil dengan rahang yang kuat dan hidup berkoloni, sangat gemar membangun sarang di kayu yang lapuk, sedikit lembab, atau berjamur. Rayap cenderung membuat sarang di spanram (support kayu di belakang lukisan) dan bersarang di tempat gelap. Spanram yang di hinggapi rayap akan lapuk dan tidak kuat untuk me-support lukisan, sehingga bukan saja kanvas lukisan akan ‘sagging’ (mengkerut) sebelum waktunya, tetapi bisa menimbulkan berbagai macam problema yang lain. Lukisan dengan kanvas yang menipis mudah robek, kotoran bisa menumpuk di bagian yang terlipat, kanvas bisa bolong dimakan rayap dan masih banyak kemungkinan kerusakan lukisan lainnya.
Tips buat Anda, untuk menghindari rayap dan menjauhkan lukisan kesayangan Anda dari hama yang bisa merusak lukisan, sebaiknya tempat penyimpanan lukisan selalu kering, dan tidak menempel ke tanah. Tanda-tanda adanya koloni rayap biasanya ditemukan bolong berlubang di bagian dalam maupun permukaan spanram, atau saat kayu spanram tersebut yang tidak lagi bisa berbunyi “nyaring” saat diketuk. Saat kayu sudah terlalu lapuk ataupun terlalu banyak lubang, maka tidak lagi efektif sebagai support sebuah lukisan, oleh karena itu sebaiknya diganti dengan yang baru. Untuk meminimalkan risiko rayap bersarang pada kayu yang baru, sebaiknya kayu yang baru di celup ke obat anti rayap (saya pernah menggunakan produk anti rayap bernama basileum ) selama beberapa jam agar meresap sebelum dipakai sebagai support spanram lukisan.
Rayap juga mengesalkan karena bisa ‘menular’ ke lukisan lain. Biasanya sebuah lukisan dengan support spanram yang ditinggali rayap, maka lukisan di sebelahnya dalam radius dua meter akan besar kemungkinannya juga dihinggapi rayap. Kalau tempat penyimpanan lukisan Anda ternyata terdapat banyak residensi rayap (misalnya lebih dari lima buah lukisan yang termakan rayap) maka saran saya tempat penyimpanan sebaiknya di fumigasi (proses fumigasi biasanya memerlukan waktu tiga – empat hari) dan spanram yang sudah dimakan rayap harus diganti dengan yang baru.
The bad news is, selain oleh rayap, masih ada lagi kerusakan yang ditimbulkan oleh hama lainnya, misalkan saja tikus, yang sangat gemar menggerogoti cat dan menyebabkan kanvas berlubang. Yang aneh tikus lebih ‘doyan’ dengan jenis cat modern yang masih berada di dalam tube industrial, sehingga saya sempat ‘berteori’ mungkin tikus zaman sekarang cukup memiliki selera kontemporer dan tidak buta warna. Ada pula serangga, yang gemar meninggalkan telur/ kotoran di permukaan lukisan berupa titik-titik hitam dalam satu garis, atau kecoa yang suka mencari sisa sampah atau bahan organik yang masih menempel di cat. Kotoran kecoa yang sifatnya irritant (uric acid) bisa merusak cat.
Tips buat Anda, untuk mengurangi risiko kedatangan hama yang mengganggu, ada baiknya tempat penyimpanan lukisan (storage) di cek secara berkala untuk memastikan bahwa tidak ada binatang kecil yang bersarang di tempat tersebut dan pendingin ruangan tidak bocor. Di dalam ruang tempat penyimpanan lukisan juga bisa meletakkan satu-dua buah naphthalene balls (tergantung besar ruangan) yang akan bekerja menjaga ruangan penyimpanan tetap kering dan lukisan Anda jauh dari ngengat atau serangga kecil lainnya.
Retak – Biasanya terjadi karena lukisan tersebut mengalami kekeringan di struktur cat terhadap tekstil kanvas, campuran cat minyak yang tidak seimbang, merk cat yang kurang baik atau tidak cocok dengan bahan tekstil canvas, sehingga cat tidak merekat dengan kuat ke kanvas dan tidak akan bertahan lama. Keretakan yang terjadi pun bermacam-macam bentuknya, mulai dari radial (melingkar seperti sarang laba-laba), kecil-kecil (atau yang disebut retak seribu) sampai yang besar-besar sehingga struktur cat lepas sepenuhnya dari kanvas. Retak juga ada yang berbentuk seperti sungai “cracqueler” karena struktur cat yang terpisah, atau gunung, karena struktur cat yang saling bertabrakan. Kerusakan ini biasa terjadi pada pinggir kanvas, maupun bagian-bagian tertentu saja, tergantung dari kondisi cat lukisan Anda. Keretakan lukisan adalah proses alami, tetapi kalau eksistensinya mengganggu visual sebuah karya lukisan, maka lebih baik diperbaiki. Seorang restorator akan handal ‘menyembunyikan’ kerusakan lukisan Anda, baik dilihat dari depan maupun dari belakang lukisan. Sebelum kita merestorasi lukisan yang retak, sebaiknya di konsultasikan dulu ke seorang professional restorator, karena ada beberapa isu yang perlu diperhatikan. Misalnya sebuah lukisan dari Eropa, dengan suhu udara yang kering sangat terbiasa untuk mengalami keretakan, sehingga eksistensi keretakan yang rata dan menyeluruh akan dianggap sebagai “antik”. Sedangkan lukisan dari Indonesia dengan tingkat kelembaban yang cukup tinggi, tidak terbiasa mengalami keretakan menyeluruh, kecuali karena kualitas campuran cat yang kurang baik maupun cat yang belum kering saat di vernis sehingga masih ada pergerakan di bawah layer vernis, maka saat terjadinya keretakan hanya di beberapa bagian saja sehingga eksistensinya cukup jelas dan terlihat “rusak”.
Tips buat Anda, sebaiknya pastikan dahulu bahwa restorator Anda tidak saja memiliki teknik melukis, tetapi juga memiliki ilmu restorasi yang baik dengan mendalami teori dan mengkombinasikan dengan pengalaman merestorasi, untuk memastikan hasil yang terbaik untuk lukisan Anda.
Vernis – Sebuah layer tipis paling atas permukaan lukisan, vernis berguna untuk memproteksi cat supaya tidak kontak langsung dengan udara. Vernis biasanya tidak memiliki warna atau colourless, tetapi memiliki efek yang sangat efisien untuk menjaga kondisi lukisan tetap terjaga dan bisa memberikan efek warna yang lebih “dalam” atau lebih kontras dari lukisan sebenarnya. Vernis berasal dari resin natural atau resin sintetik. Kebanyakan lukisan tua atau antik menggunakan resin natural, yang finishingnya terlihat lebih glossy, sementara untuk lukisan baru atau kontemporer lebih banyak menggunakan resin sintetik dengan finishing matt. Secara alami vernis yang didasari resin natural mengalami penuaan dan bisa berubah warna menjadi merah tua atau kecoklatan, tergantung dari jenis resin itu sendiri. Resin dari Sumatra, misalnya cenderung lebih merah kecoklatan, daripada resin dari Borneo yang cenderung berwarna kekuningan. Resin yang berwarna coklat bisa berdampak sangat positif untuk sebuah lukisan, atau cocok untuk lukisan klasik dan antik, dengan nuansa klasik Eropa, karena bisa memberikan efek warna yang terlihat kontras dan “hidup”, tetapi dampak negatifnya dalam jangka waktu panjang bisa terlihat gelap (sehingga proses re-vernis perlu dilakukan). Vernis dari resin tipe ini sangat popular dengan lukisan Eropa, untuk memperdalam efek ‘chiara-scuro’ dimana tampilan karya lukisan menekankan gelap – terangnya lukisan tersebut (contohnya lukisan Rembrandt). Resin yang tidak berwarna, atau berwarna kuning bening, memang lebih stabil dalam arti tahan lama, fleksibel dan tidak berubah warna sama sekali, tetapi memiliki properties matt, sehingga kurang “bermain” dalam efek kontrasnya. Ada baiknya kita memilih tipe vernis yang sesuai dengan karya lukisan itu sendiri, untuk memperlihatkan kecocokan dekade dan originalitas dengan tampilan yang maksimal.
Di artikel selanjutnya saya akan menceritakan lebih jauh jenis kerusakan lainnya dari sobek, resapan air dan kecerobohan restorasi yang dilakukan oleh non-profesional [V]